Berkarya dengan hati

Berikut adalah tulisan di haloibu.id tahun lalu..

https://www.haloibu.id/2018/04/berkarya-dengan-hati/

 

Berkarya dan bekerja.

 

( PART CV )

 

Berkarya itu dikerjakan pake hati, didalamnya melibatkan improvisasi, eksplorasi, eksperimen, pendalaman, penghargaan dan rasa cinta.

Bekerja itu dikerjakan sesuai aturan yang diperintahkan saja.

 

 

 

Agar tips terlihat valid berikut saya lampirkan dulu CV saya

 

1994 – 1999 magang berbayar di konsultan arsitektur sebagai tukang maket ( pembuat miniature rumah / bangunan )

 

1999 lulus kuliah, merantau ke Bali jadi arsitek junior di konsultan arsitektur Imagi – Sanur

 

2000 – 2003 di Bandung, jadi arsitek dengan side job :

menjadi wedding decorator / wedding organizer khusus kawinan jawa

menjadi Event Coordinator / Project Officer di banyak event di Bandung

menjadi Produser program prime time sore Radio Oz, Bandung selama 6 bulan

menjadi Produser film independen ( salah satu aktornya adalah Agus Rahman, yang memerankan tokoh bernama Ringgo, sampai akhirnya sekarang dia lebih dikenal dengan nama Ringgo Agus )

menjadi Produser Video klip beberapa karya teman-teman di Bandung

menjadi Make-Up Artis dan fashion stylist di beberapa video klip

membuat butik bernama Togs ( salah satu desainerny adalah Didiet Maulana )

 

2003 – 20010 bekerja di Radio Prambors – Radio Female – Radio Delta, Jakarta

sebagai :

  • Produser TV The Power Of Putih Abu-abu ( tayang tiap Sabtu di SCTV )
  • Event off air manager
  • Merchandise & Product manager

 

2010 dipecat oleh pemilik , lalu bersama 2 sahabat bikin brand bernama Rosaphora ( cek di @rosaphora ), tapi karna tidak ada passion di dunia fashion maka di tahun ke-3 sudah makin sulit dijalanin. Sampe sekarang ga dibubarin tapi gak dijalanin juga. Belum tau.

Sejak 2010 terus menjadi Event Coordinator/Event Consultant dan terus memproduksi banyak event.

2011 mencoba membuat talent management, dengan talent saat itu hanya Ucita Pohan ( @uchiet ). Sekarang sudah ada Nia Aladin ( @niaaladin ), dan Angie Ang ( @nonangie )

Tahun 2015 bikin restoran pizza dengan nama Quarter Pizzabar ( cek di @quarterpizzabar ) tutup 8 bulan kemudian.

 

 

Sampai dengan hari ini saya dengan bangga menyebut diri saya seorang Event Produser dengan pekerjaan sampingan menjadi arsitek, dan memiliki hobi melukis atau membuat karya seni (  juga menjadi investor di beberapa perusahaan skala menengah dan local start-up. )

Tidak ada sertifikasi yang bisa mengesahkan diri sebagai Event Produser. Tidak ada award atau program penghargaan apapun di dunia event. Tidak selalu profit, bahkan pernah merugi ratusan juta. Tidak ada jaminan untuk terkenal seantero nusantara. Tapi saya akan tetap berkembang dan tidak akan berhenti di dunia event yang sudah memberikan saya banyak hal ini. Saya merasa hidup dan bisa bebas berkarya disini. Cita-cita saya memiliki gedung pertunjukkan dimana banyak orang bisa membuat event di tempat bagus dengan harga terjangkau. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

So,  dari CV pengalaman bekerja selama 22 tahun tsb berikut ada beberapa tips menemukan passion untuk karier dan berkehidupan di rumah tangga, kira-kira seperti ini :

 

  1. Jangan berhenti mencoba. Kegagalan itu gak ada, yang ada hanyalah proses belajarnya yang belum selesai.

Buat saya yang abadi adalah perubahan. Di dunia kerja, comfort zone itu semacam jebakan batman. Comfort zone membuat kita terlena dengan segalanya sampai lupa kalau diri kita harus terus belajar dan lupa meng-upgrade diri.

So, meski core pekerjaan saya tetap di dunia event sejak tahun 2000, tapi saya terus menantang diri mencoba untuk hal lainnya, baik yang terkait dengan event ataupun tidak. Bukan sesuatu yang multitasking, karena tidak perlu dilakukan semuanya bersamaan dan tetap fokus dan selesai dalam mengerjakannya ( sebutan kerennya, Cognitive Intelligence, bukan BM-banyak Mau yaa, apalagi serabutan ). Dan jika kita gagal, yang penting selalu ada kesempatan mencoba lagi dengan dengan persiapan lebih baik sekaligus menyiasati jalan keluarnya.

 

  1. Kerja yang smart, bukan kerja keras.

Sejak bekerja di rumah dan menjadi ibu, saya BARU paham, sebetulnya jika kita fokus maka pekerjaan hanya butuh sekian jam ( saya mendisiplinkan diri untuk bekerja hanya 2-3 jam sehari ) untuk diselesaikan, gak perlu seharian seperti waktu saya ngantor dulu.

Lembur di kantor semalaman pun dulu sering saya lakukan, dengan alasan kerjaan belum selesai. Padahal, pekerjaan tidak akan pernah selesai. Pekerjaan itu sebuah karya. Karya tidak boleh berhenti. Maka mengatur waktu, strategi, energi, output yang ingin dihasilkan dan dana untuk berkarya ( dan untuk berkehidupan lainnya ) buat saya lebih berfaedah daripada kita fokus berkutat menyelesaikan 1 karya tiada henti sampai lupa waktu dan lupa bersosialisasi.

 

 

  1. Kreatif

Salah satu syarat mutlak dalam berkarier dan berumah tangga pastinya adalah berpikir dan bertindak kreatif. Selain kreatif mengatur strategi, jadwal, biaya dan semua hal-hal yang teknis, sudah pasti kita juga kreatif mengatur mimpi, pola pikir, rasa, ekspektasi, proses belajar juga respon dari orang lain.

Jangan pernah merasa sedih dan kecewa jika kita merasa karya kita “dicuri” orang lain. Percayalah, there is nothing new under the sun. Semua hal adalah pengulangan dengan sedikit inovasi, improvisasi dengan referensi dan cita rasa yang personal.

Buat saya juga tidak akan ada tempat bagi mereka yang menyukai jalan pintas. Sabar, tau diri, stay humble dan menunggu waktu yang tepat, akan jauh membuat hidup kita lebih bermakna dan mudah diteladani oleh anak-anak kita daripada mengambil jalan instan yang menyedihkan dan terburu-buru hanya karna membandingkan diri dengan orang lain, memiliki perasaan tidak berguna dan tidak berdaya akan perubahan hidup ( yang saya alami juga ketika menjadi ibu baru ).

 

  1. Tekun, konsisten dan terus berlatih.

Banyak detail-detail yang membuat kita bosan, jengah, capek, penat, depresi saat kita berkarya. Tapi saya juga menemukan banyak kejutan-kejutan manis dan hebat dari detail-detail pekerjaan yang kita kerjakan itu. Karena dari masing-masing yang kita kira nilai buruk dari pekerjaan tersebut sudah pasti itulah sumber kita untuk belajar terus dan terus.

Tekun adalah komitmen di dalam diri sendiri, untuk lebih telaten, sabar dan tabah. Ujian seberapa pantas dan seberapa lama kita setia dengan pekerjaan kita.

Konsisten adalah sikap yang menghasilkan pola baik dan teratur. Untuk apapun. Kalaupun kita dapet award atau penghargaan lain atau bonus materi, itu adalah resiko karna kita sudah tekun dan konsisten.

Juga layaknya atlet, latihan dan jam terbang adalah proses yang harus dijalani untuk menjadi yang terbaik di bidangnya. Baik menjadi pekerja maupun menjadi ibu dan istri.

 

 

 

  1. Respek terhadap talenta

Apapun yang sedang kita kerjakan. Itu adalah cara kerja talenta yang kita punya, yang kita punya sejak lahir. Talenta gak pernah bohong. Dialah yang membuat kita menjadi diri sendiri, membawa kita ke banyak pengalaman dan kegilaan dalam berkarya. Saya beruntung pernah mencoba banyak pekerjaan dan mengeksplorasi talenta di dalam diri saya ( meskipun butuh waktu sangat lama ). Tapi tidak semua orang perlu seperti itu. Beberapa beruntung sudah menemukan talenta yang pas untuk dirinya dan masa depannya dalam waktu dekat. Bersyukur jika kita sanggup menyimak diri sendiri dan talenta yang kita punya, percayalah ia yang akan membawa kita ke tempat yang seharusnya.

Jangan berhenti mendengarkan diri sendiri, be yourself and don’t be normal.

 

  1. Baca, bergaul dan berdiskusi

Dunia pekerjaan apapun selalu melibatkan orang. Meskipun revolusi 4.0 sudah di depan mata, dimana online dan digital ( bahkan juga kecerdasan buatan ) adalah masa depan, saya masih percaya pekerjaan apapun tetap akan melibatkan orang. Saya percaya tidak ada seorang yang bekerja sendirian meskipun dia seorang penyanyi solo atau atlet tunggal.

Banyak membaca ( buku ) dan dekat dengan literasi adalah salah satu modal kita bergaul, berjejaring, berbagi, menyerap informasi, mendapatkan kesempatan atau bahkan wisdom dari orang lain. Berdiskusi sangatlah penting karna kita bukanlah Yang Maha Benar. Maka bertukar pandangan, berkonflik, mencari solusi dengan pemikiran dan hati yang terbuka tanpa paksaan adalah pemberdayaan diri menjadi pekerja dan ibu yang mumpuni.

 

  1. Berkolaborasi

Saya penganut konsep “One man show is a big no no”. Maka sepanjang karir, saya selalu melibatkan orang untuk bekerja sama, berproses bersama, belajar bersama demi menuju satu tujuan yang disepakati bersama. Apalagi setelah menjadi seorang ibu. Saya selalu mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan berkolaborasi daripada kerja sendirian. Saya selalu membangun tim dan merawatnya agar terus berkembang bersama-sama.

Kolaborasi dengan orang lain juga amatlah penting. Pembauran dengan banyak orang, lintas generasi, gender, umur, latar belakang, keahlian dan lintas pekerjaan, semuanya sanggup membuat otak kita menyerap yang lebih kompleks, memicu bekerja lebih keras, mengasah rasa, melatih menghargai perbedaan dan meningkatkan kemampuan menjadi pribadi yang lebih matang, perilaku lebih efisien juga menghasilkan buah pikir yang tepat.  Hal-hal seperti ini yang saya rasa akan semakin dibutuhkan anak-anak kita di masa mendatang yang pastinya akan memiliki dunia lebih berwarna.

 

 

 

  1. Memiliki komunitas

Saat ini saya memiliki lebih dari 3 komunitas yang sudah berjalan lebih dari 3 tahun. Buat saya yang menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja, segalanya terasa saling terkait, dan saat ini banyak terbantu karna adanya komunitas. Selain keuntungan berjejaring, memiliki perkumpulan dengan minat yang sama mempermudah untuk terus belajar dan berkarya secara bebas. Kita akan mendapatkan hal terjujur dengan waktu dan energy yang efisien dari komunitas. Merawat pertemanan dan pekerjaan di dalam berkomunitas menjadikan investasi penting untuk anak-anak berkehidupan kelak. Mereka akan ikut belajar dengan mudah dan nyaman dari orang-orang yang sudah kompeten dan dipercaya orang tuanya.

 

  1. Rawat diri

Berikut ini hal-hal yang buat saya penting dilakukan demi me-recharge otak, jiwa dan raga.

  • Mengikuti kelas, kursus, seminar, diskusi dll, dari mulai materi yang erat hubungan dengan event sampai kelas lainnya, misal kelas public speaking, kelas finance, kelas menulis, kelas parenting, kelas melukis dll dsb,.
  • Traveling terjadwal rutin dilakukan bersama keluarga. Dalam negeri maupun luar negeri. Pengalaman ruang, tempat, waktu yang baru selalu menambah kaya jiwa kita.
  • Me time rutin dilakukan seminggu sekali. Baik yang dilakukan untuk diri sendiri ( misal spa, olahraga, masak dll ) atau bersama orang lain ( kencan dengan pasangan, kencan dengan anak, pergi dengan teman, berkumpul dengan keluarga )
  • Membaca minimal 1 buku dalam sebulan, ini selain untuk diri sendiri juga memberi contoh kepada anak-anak, di era serba digital ini perlu menjaga agar anak juga melek literasi yang manfaatnya terbukti sangat banyak di masa mendatang.

 

  1. Cintai pekerjaan

Klise? Sudah pasti. Karena cinta memiliki daya magis untuk apapun di seluruh lini kehidupan. Teguh dan bersikukuh pada jalur karir yang sudah kita pilih sendiri, akan lebih mudah dikerjakan tanpa keluhan berarti, daripada kita mengerjakan sesuatu yang mengikuti trend atau hanya berdasarkan perintah. Bersyukurlah kepada mereka yang sudah menemukan cinta saat berkarya dan bekerja. Cinta bisa mewujudkan mimpi dan mencapai tempat-tempat mustahil di pekerjaan dan di kehidupan. Buat saya, love always wins.

 

 

  • Bersyukur, ikhlas dan berbagi

Semuanya sangat mendukung kita untuk berkarya dan bekerja. Ada nilai yang tidak terukur didalamnya, karena semuanya hanya bisa dirasakan. Ilmu dan pengalaman amat perlu dibagi, disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih baik dan lebih banyak. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik atau lebih buruk, lebih mulia atau lebih hina ( kecuali korupsi ). Semuanya memiliki nasib dan takdir masing-masing. Meskipun saya memerlukan waktu lama untuk tidak membanding-bandingkan pekerjaan saya dengan orang lain. Beruntung saya sekarang menjadi ibu, jadi lebih fokus untuk meninggalkan teladan dalam karya dan pekerjaan kepada anak-anak untuk mereka pelajari kelak.

 

 

Itu kira-kira ocehan saya selama menjadi perempuan dan ibu bekerja / ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah. Jika semua point dikerjakan dengan hasrat dan kesetiaan, maka money will follow. Mendapatkan pengakuan, penghargaan atau award, hanyalah konsekuensi dan resiko dari karya yang dikerjakan dengan hati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s