Apa rasanya umur 43 mbak?

“Apa rasanya umur 43 mbak?’, tanya Ashtra Dymach, 30 tahun, founder dari haloibu.id

 

 

 

Ini adalah blog pertamaku di tahun 2019.

Ini adalah blog pertama di umur baru, 43 tahun.

 

11 Januari adalah hari ulang tahunku. Tahun ini, 2019, adalah tahun ke 43 aku berulang tahun. Rasanya? Biasa aja sih di hari itu mah…

Gak ada harus gimana-gimana..

Gak refleksi kehidupan berkeluarga juga.

Gak review karya juga. Cuek aja..

Karena berasa udah bikin plan 2019 di bulan Desembernya. Tinggal dikerjain semua. Beres.

 

Lalu pas nge-brunch bareng sama Ashtra Dymach dan Anggia Sulistyo, ditanya sama Ashtra, “ Apa mbak rasanya 43 tahun?”

Gue jawab, “biasa aja”.

 

Buat yang belum tau Ashtra Dymach, dia adalah mentor saya, usianya baru aja 30 tahun desember 2018 lalu. Tapi percayalah, saya merasa hidup saya berubah banyak sekali setelah ketemu dia dan Anggi. Dia founder dari Halo Ibu yang super ciamik dan real itu ( yes real hehe ). Ibu 2 anak yang gak brenti belajar dan nambahin banyak hal untuk menjadi seorang doula post-partum yang masih sedikit sekali jumlahnya di Indonesia ini.  Semua hal yang berhubungan sama dia, udah pasti jadi refleksi idup gue..

 

Anggia Murni Sulistyo, adalah mentor gw untuk jadi seorang Kaprikorn Kece hihi, kami bertemu dan menjadi akrab ketika dia masih punya coffeeshop bernama Community Coffee yang tutup Nov 2018 lalu. Sampai bangkrut tu coffeeshop-nya, kami masih saling menguatkan, saling mendukung, saling sayang pastinya. Umurnya juga baru 32 taun Januari ini hahaha… Iya mentor saya makin lama makin muda dan milenial.

Barengan mereka tu baru intens 2-3 taunan, tapi entah kenapa banyak sekali perubahan ( drastis ) dalam hidup gue justru bersama mereka. [ Kapan-kapan gue pengen banget nge-blog tentang perubahan gue yang menggokil itu sih hehe. ]

Ga tau deh universe tu emang baik banget aja sama gue, dikasi circle pertemenan yang “se-zen” ini. A non judgmental group that makes me keep smiling, less worrying, less stressed, hhhhhh sooo blessed !

 

 

Jadi andaikan saja pertanyaan itu GAK ditanyain sama seorang Ashtra, pasti gue cuek sih. Tapi karena dia yang nanya, maka gue kepikiran beberapa hari berikutnya.

 

Dan inilah rasanya usia 43 dari gue..

 

 

Krisis kepercayaan diri?

Ga tau juga sih sebenernya apa namanya.

[ Rasanya ] gue ngalamin krisis kepercayaan diri deh, dari angle : cara orang berkomunikasi dan berbagi ( di social media ).

 

Jadi gini, gue adalah generasi X yang punya lack of communication, juga telat nikah ( iya temen-temen gen X gue tu banyak yang memilih tidak menikah ), ngejer karier duit jabatan dan bisa memuja idol jika dia memang terbukti mumpuni.

Mumpuni itu versi gue ( dan sebagian generasi gue ) adalah dari cara seseorang berkarya, gaya leadership-nya ( bukan bossy ya tapi dia leader ), pengalaman jam terbang yang udah banyak, mudah diajak diskusi berbagai kalangan dan umur, selalu terbuka didebat, dan rendah hati. Sukur-sukur bisa bikin gerakan positif yang menggugah dan menginspirasi banyak orang. Itu gue bisa ngefans banget sama idol macam gitu. Memang ahli ( dan bertanggung jawab juga berkontribusi ) di bidangnya.

 

Tapi sekarang yang gue temui adalah orang-orang yang sedang “berusaha” menjadi expert tapi “sudah merasa” expert. Rajin sekali berbagi tulisan, berbagi tips, berbagi quote ( mungkin juga copas dari pinterest or other people’s caption ), tapi hebatnya punya keberanian berdiskusi ( buka forum tanya jawab di igstory dan segera ada kesimpulan ). Sayangnya, kadang belum final isu yang satu, sudah lelah dan pindah topik lainnya. Hebatnya lagi, bisa jadi narsum dimana-mana. Dan BANYAK fans dan follower socmednya.

 

Aduh beneran, fenomena ini lagi terjadi ga cuma di 1 orang teman. Tapi banyak! Dan yang itu terjadi hanya di teman-teman milenial saja.

 

Saya resah melihat fenomena ini. Tapi berusaha coba liat dulu aja, observasi selama 6bulan – 1 tahun, ngobrol sama temen-temen sesama gen X, bahas sama temen-temen milenial, sampai akhirnya saya ada di tahap “yaudalasis emang ternyata begini jamannya.. lo basi kalo masi pake cara-cara lama lo..jadi silakan deh lo umbar tu apapun yang lo pengen post”…

 

Yes, beneran gue sempet punya keresahan itu sih. Semacam “hah ini dia serius ya nganggep dirinya expert”, langsung inget banget sama konsep Fake it till you make it..ternyata mudah ya dikerjain konsep itu… mudah tapi bukan value gue aja sih. Gue milih penuhin dulu diri gue untuk lebih kompeten di bidangnya, gue lebih suka praktekin dulu,  gue bertanya pada grup-grup kecil, gue tambahin terus jam terbang dan ketika udah banyak trial & error, baru pede untuk share to the woooorlddddd!!!!

 

 

Tapi ya di jaman digital ini udah serba beda.

s e r b a  i n s t a n.

 

Maka di umur baru ini, gue udah sampe di tahap self-acceptance alias nrimo sama fenomena itu. Justru gue perlu belajar sama mereka “expert-expert muda” ini untuk pelajarin cara-cara mereka berkomunikasi dengan penuh percaya diri menyampaikan gagasan, keresahan ataupun sekedar berbagi kerecehan dan pengalaman.

Ada sih milenial yang beneran berbagi ilmu, ada yang memang kompetensinya disitu, ada yang niat belajar sana-sini, ada yang usaha banget cari pengalaman kemana-mana sama siapa aja untuk nancepin posisinya, brandingnya, kapasitasnya, kompetensinya, capability-nya kalo memang dia menuju ke arah seorang ahli. Mereka tekun, konsisten dan siap berjuang demi pencapaian kariernya.

 

Gue pelajari semuanya. Semua proses “expert-expert muda’ ini bertumbuh, nanggepin masalah. Gue liatin problem solving mereka. Gue baca caption mereka. Memang sih, kadang kelewat instan SEMUA prosesnya buat gue, lagi-lagi gak sesuai sama value gue si generasi setengah analog setengah digital ini, tapi lagi-lagi mungkin itu efektif buat mereka yang gede di jaman digital ini.

 

Fenomena ini gue rangkum, gue simpen, untuk diolah.

Jadi kalau gue mau berkarya di jaman now, maka gw perlu kumpulkan semua ilmu yang gue punya, wawasan, trik & tips dari skill sampai wisdom yang udah gue dapetin, dan kemas semuanya dalam bentuk kekinian.

Bisa jadi bentuknya bukan suatu inspirasi dari pengalaman instan, tapi semoga bisa berguna buat orang lain. Pastinya juga bakal jadi jejak digital warisan ke anak-anak gue. Kalo ibunya selalu berusaha bertahan, berusaha fleksibel, cari cara menyesuaikan, nrimo dengan segala tantangan yang ada di setiap umur baru.

 

Semoga semua temen-temen gen X lainnya, sudah berdamai dengan krisisnya juga.

 

Happy birthday Sessa Xuanthi.

I’m going to make you so proud.

I Love You

– ehses, 14 feb 2019.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s