HARI BUKU NASIONAL 2018

Tentang buku.

Jaman now, yang setiap hari dibanjiri informasi dan berita hoaks, udah butuh banget tameng biar gak jadi korban. Awal perkenalan dengan hoax tu gw mirip orang-orang kebanyakan sih. Ikut terpengaruh, ikut heboh, ikut panas dan menebar sinis. Trus ribut-ribut sama temen sendiri. Trus ngabisin waktu. Ngabisin energy. Nyerap energi negatif. Trus gak dapet apa-apa. Cuma mangkel doang. Dan jadi males maen sama temen itu.

Lah gw yang rugi ye kalo percaya hoax.

Iyes, logika hoax adalah memuaskan keyakinan audiensnya tanpa perlu dasar yang kredibel. Hoax dianggap sukses jika sudah berhasil membungkam pemikiran kritis, dengan terus membuai audiensnya dengan kebohongan dan kebohongan lagi. Entah karena kebohongan selalu memikat atau seseorang tsb tidak ada pengalaman apapun di dalam isi kepalanya. Jadi isi kebohongan hoax akan ditelan dengan sempurna, dikunyah baik-baik, disebarkan dengan ikhlas, dan diperdebatkan dengan semangat. Untuk sesuatu yang belum tentu benar. ouch.

Joseph Goebbels, menteri propaganda rezim Adolf Hitler bilang : Percaya pada kebohongan yang terus diulang-ulang dalam waktu lama, akan menjadi fakta bagi kalangan PICIK dan TIDAK BERPIKIR. Bahkan pembohongnya pun bisa percaya pada kebohongannya sendiri.

Viral adalah bonus penting dari hoax yang tidak akan berpihak kepada kualitas informasi dan etika. Cuman kehebohan sekejap tapi bisa menetap bagi orang-orang doyan protes sama idup yang bukan pemikir kritis.

Kepanikan, ketakutan dan kesesatan adalah produk akhir buah kerja ringan berita hoax tanpa susah payah.

Trending topic adalah viral yang direkayasa oleh kelompok kolosal yang mempercayai berita tidak benar.

Nah. Gw males deh tu ada dikelompok itu.

Maka daripada kejebak, mending bersiap terus deh. Selalu melatih otak dan pikiran agar tetap kritis. Selalu rileks dan memilih tidak gegabah menanggapi berita apapun.  Persering memproduksi konten kreatif.  Ciptakan ruang toleransi dan keberagaman. Dan jangan kasih panggung untuk hoax-hoax tersebut. Alias, Abaikan.

Buku adalah salah satu cara praktis menangkal berita hoax. Bagi semua yang setia menekuninya, niscaya otak dan pikiran ( juga hati ) tidak akan menjadi kelompok hura-hura korban hoax. Amin kan pemirsaahhh???

Dan setiap orang pastinya punya referensi buku yang berbeda-beda sesuai pengalaman dan kebutuhannya.

Berikut adalah buku-buku yang bolak balik gw baca tiada henti tiada bosan sekitar 10 tahun terakhir. Dan setiap buku pasti ada lembar favorit yang dilipat. ( iyes, keunggulan dari buku fisik dibanding buku digital, kertasnya bisa dilipat, sis! Dan bonus bau kertasnya yang khas dan berbeda antara satu buku dan lainnya ).

Setiap buku selalu dibaca sampai selesai hanya pas pertama kali beli aja. Tapi berikutnya nasib buku-buku ini jadi sering bolak balik dibaca lagi dibaca lagi gak selesai-selesai. Dari sejak beli sampe sekarang ( sepanjang idup gw sih rasanya). Beberapa kadang dibaca sambil berdiri. Karena hanya butuh baca 4-5 halaman.

Ini dia buku favoritku sepanjang idup :

  1. IT’S NOT HOW GOOD YOU ARE. IT’S HOW GOOD YOU WANT TO BE ( 2003 ) – Paul arden
  2. DAMN GOOD ADVICE ( 2012 ) – George Lois
  3. STEAL LIKE AN ARTIST ( 2012 ) – Austin Kleon
  4. DON’T LET THE BASTARD GET YOU DOWN ( 2014 ) – Sam Dixon
  5. HAPPINES INSIDE ( 2016 ) – Gobind Vashdev
  6. MANUSKRIP YANG DITEMUKAN DI ACCRA ( 2014 ) – Paulo Coelho
  7. KELUARGA KITA ( 2017 ) – Najelaa Shihab
  8. FORTUNE FAVORS THE BRAVE ( 2015 ) – Lisa Congdon
  9. Koran KOMPAS

IT’S NOT HOW GOOD YOU ARE. IT’S HOW GOOD YOU WANT TO BE ( 2003 ) – Paul arden

Buku ini dibeli pas masih ambisius jadi wanita karier. Hampir tiap lembarnya relate banget sama kerjaan. Tapi ternyata sampe sekarang pun masih sering bolak balik dibaca. Penulisnya adalah creative director dari Saatchi & Saatchi. Jadi isinya emang seputar dunia kerja periklanan. Ada serial lainnnya, judulnya “Whatever You Think, Think The Opposite” sama “God Explained in a Taxi Ride”. Dua-duanya dipinjem temen belum dibalik-balikin. Biarin aja deh. Karna gw percaya takdirnya buku tuh harus keliling, biar dibaca banyak orang. Dan menurut gw, buku ini banyak jadi inspirasi buku-buku lain. Baik cover maupun konten. Minimalis dan nampol.

DAMN GOOD ADVICE ( 2012 ) – George Lois

Kontennya banyak banget seputar dunia kerja kreatif juga. Penulisnya dikenal sebagai art director juga cover designer majalah Esquire. Lois lahir tahun 1931, jadi dia banyak berbagi keseruan dunia kerjanya di rentang waktu jadul tsb. Dibagi per judul. Saking banyaknya sampe sering kelewat. Ada yang baru dibaca sekali doang gitu hehe

STEAL LIKE AN ARTIST ( 2012 )  – Austin Kleon

Sangat setuju dengan konsep pemikirannya. There’s nothing new under the sun. Buku berisi tentang mencontek yang bukan plagiat, meniru yang bukan copy paste, memodifikasi yang berinovasi, mengumpulkan ide juga informasi dan menuangkannya dalam bentuk karya. Yang sudah dicampur dengan pengalaman pribadi juga referensi yang tidak terbatas dari seorang artist. Iyes, buku ini membuat “mencuri” jadi menyenangkan.  Rasanya ini buku wajib dimiliki oleh semua pekerja kreatif. Yang kadang bingung sama batasan nyontek untuk berkarya.

Tapi ya, kalo sangatlah insecure dengan karyanya yang takut dicontek orang, segera daftarkan saja karyamu tersebut untuk dipatenkan. Dan tuntut semua orang yang meniru. Sampai habis waktu, tenaga dan biayamu.

( Selagi orang lain terus  menerus berkarya tanpa beban. )

Tidak ada yang diciptakan. Karena semua lebih dulu tertulis di alam. Orisinalitas berarti kembali ke alam… – Antoni Gaudi.

DON’T LET THE BASTARD GET YOU DOWN ( 2014 ) – Sam Dixon

Sebenernya ini bukunya buat suamik, Dipa. Waktu itu dia galau-galau. Masih ngantor di XL di divisi yang wow hitsnya dan dia sukai, tapi juga side jobnya sebagai talent manager para stand-up comedian jauhh lebih dia cintai dan lebih menjanjikan.

Bekerja di telco bisa jadi salah satu cita-cita kami, tapi bekerja sendiri ( apalagi jadi manager artis ) adalah impian Dipa. Buku ini akhirnya dibeli pas dia ultah, dan di lembar yang messagenya paling pas, kuberi tulisan : Happy Birthday.

Sampai sekarang bukunya malah gw yang lebih sering baca daripada dia hehehe.

HAPPINES INSIDE ( 2016 ) – Gobind Vashdev

Bukunya gak sengaja nemu di Gramedia, PVJ Bandung. Sekian bulan setelah anakku, Alinea meninggal. Waktu itu salah satu jurus move on dari kedukaan adalah banyak membaca. Self help book ini salah satunya. Dibaca sampai sekarang banget! Kadang lompat-lompat bacanya. Sesuai kebutuhan hidup aja. Setiap lembarnya seperti relate dan selalu ada maknanya buat gw. Sampai sekarang.

MANUSKRIP YANG DITEMUKAN DI ACCRA  ( 2014 ) – Paulo Coelho

Buku-buku Paulo Coelho banyak dibeli setelah anakku Alinea meninggal. Karna karyanya banyak menceritakan tentang hidup. Juga kekalahan. Keterpurukan. Kebangkitan. Pantang menyerah. Yang sebagian setting dan alur cerita berlatar belakang tentang gereja katolik. Sekalian deh, sambil healing juga belajar sejarah agama. Dan dari semua buku-buku Paulo Coelho yang dibaca, tinggal buku ini doang yang udah lecek bolak balik dibaca.

KELUARGA KITA ( 2017 ) – Najelaa Shihab

Buku ini memang baru dapet dari bu Najelaa di tahun 2017. Tapi sudah kubaca berkali-kali dari sejak dapet sampe sekarang. Anakku, Aikia, sekarang umur 8,5tahun. Sejak dia lahir memang udah rajin beli-beli buku parenting. Tapi gak ada yang dibaca bolak balik gitu sih. Buku ini rasanya bakal lama dibaca lagi dan lagi. Karena kontennya relevan sampe Aikia dewasa. Lagian masih ada Arli, si adik yang baru mau 2 tahun. Pastinya bisa gila kalo buku ini sampe gak ada hehe.

FORTUNE FAVORS THE BRAVE ( 2015 ) – Lisa Congdon

Buku ini baru dibeli di tahun 2018. Nemunya pas Aksara Kemang lagi closing sale. Aksara Kemang itu salah satu toko buku favorit banget. Dari sejak pertama dia berdiri sampe sekarang mau berubah format. Jadi sedih banget pas tau tokonya tutup di semua cabang, kecuali Kemang. Udah niat mo belanja buku pas closing sale ini. Ndilalah nemu aja bukunya Lisa Congdon ini.

Seorang artist yang gw ngefans banget! Buku ini isinya tentang quote-quote orang terkenal. Jadi dibaca berulang-ulang karena desainnya bagus, bisa jadi contekan banget, plus bonus ada quote yang bisa jadi inspirasi juga.

Udah bolak balik dibaca banget deh. Meski hati-hati karna ga mau lecek banget kayak yang laen haha

Koran KOMPAS
Dari gw kecil udah langganan KOMPAS. Selalu ada tukang Koran langganan di keluarga kami. Dari yang pake sepeda sampe sekarang yang pake motor. Selalu ada orang yang butuh Koran bekas juga. Dari bentuk fisiknya aja udah ngajarin sesuatu banget. Salah satunya ya tentang recycle itu.

Meskipun nampak ribet, karna size nya besar. Tapi isinya banyak. Dan selalu milih duluan baca halaman depan, halaman opini, sama halaman nama dan perisitiwa. Kalo hari Minggu hampir kebaca semua halaman. Dan dari iklan-iklannya bisa ketebak yang mana ni dari calon-calon klien yang lagi banyak duitnya hahaha.

Kenapa gw tetep baca Koran macam orang tua?

Karena Koran adalah media konvensional yang ada redakturnya. Tulisan diedit oleh editor yang kredibel. Beda sama berita di socmed yang serba instan dan ngebut. ( Buat gw beberapa kelewat gegabah ). Berita di Koran sudah disortir, dirangkum, dan diberitakan untuk dipertanggungjawabkan.

Dan ternyata gw juga ga butuh diupdate berita per detik. Ternyata gw juga terganggu dapet notifikasi tiap detik. Akhirnya gw males idup brisik amat cuma diganggu notifikasi berita yang heboh doang di judul tapi konten yang diupdate cuma sebaris. Akhirnya untuk berita digital hanya via kumparan aja. Yang dibacanya juga kalo inget hehe.

Besoknya gw tetep baca Kompas untuk informasi yang udah diringkas. Biasanya karna beritanya telat sehari, maka kontennya pun udah lebih valid, sudah dikonfirmasi menjadi berita matang dan tenant.

Iyes gw macam orang tua berarti ya. Gak demen berita penuh sensasi dan konflik di media digital atau TV. Karna gw gak butuh berita-berita heboh menegangkan yang belum tentu gw perlukan itu.

Itu dia semua hal tentang buku ( dan Koran ).

Manfaat baca jangka pendek? Sudah pasti bisa melawan hoax. Bisa lebih rileks membaca berita, tidak terpancing, karena kerja otak meminta kita untuk diam sejenak mencerna dan menimbang. Gak perlu reaktif, apalagi heboh-heboh panik atau ketakutan seperti yang diharapkan hoax.

Manfaat jangka panjang? Harusnya kita jadi gak defisit intelektualitas. Selalu berwawasan, dan memiliki nilai baik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Semoga.

Selamat Hari Buku Nasional.

Stay away from hoax.

Lawan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s