#XadJava hari ke-9 : Lawang Sewu, Semarang

Terlalu banyak yang pengen diceritain. ūüėĄ

 

Yang pasti, cukup senang liat nasibnya sekarang. Dulu kalo lewat Lawang Sewu cuma bisa kagum-kagum kasian dari kendaraan aja. Gedung belanda yang bagus tapi spooky, angker, gelap, ga keurus. Sekarang jadi rapi, bersih, terang dan bagus banget. Untung ada PT. KAI yang mau kelola dengan back. Terima kasih PT. KAI….
Cerita dari pemandu wisata :

– dulunya bernama Wilhelminaplein

– Dibangun tahun 1904 – 1907

– Pas jaman Belanda dipake untuk kantor kereta api

– Pas jaman Jepang dipake untuk nyiksa sisa orang2 Belanda dan orang Indonesia

– Pas udah merdeka dipake kantor Kodam

– Trus lama kosong, sama warga sekitar kalo ada yang wisata dianterin ke dalem dengan bayaran sukarela

– Trus dipake syuting acara tv Uji Nyali, yang memakan korban sampai meninggal setelah mengikuti acara tsb di temp√£o ini

– Tahun 2004 oleh PT. KAI mulai dikelola untuk kebutuhan wisata dan diresmikan oleh ibu Ani Yudhoyono..

 

Sekarang, apapun cerita angker serem spooky nakutin tentang Lawang Sewu sudah seharusnya berubah menjadi Lawang Sewu yang menjanjikan, yang artistic, yang kontributif dst dll.. Ya bukan tugas pemerintahan kota Semarang doang, tapi ya kita semua sih. Ya gak?

Bangunan toilet yang masih berfungsi baik
Pemandu wisata pertama kali malah nunjukin area toilet ini. Dimana semua utilitas nya masih berfungsi baik sampai sekarang
Sejak dulu memang dirawat oleh para petugas dan pemandu

Warna dinding sengaja berwarna kuning karna kalo malem memantulkan cahaya, mayanlah gak gelap-gelap amat kali yeee

 

Teknologi pembuatan kolom di gedung yang paling lama, adalah granit utuh yang diimport dari Italy
Sungguh saya mengagumi detail gedung ini
Ruangan untuk kasir
Brankas, lagi-lagi teknologi dengan detail-detail canggih pada jamannya. Liat dong itu ada sudut yang menjorok itu buat apa yah..
Ceiling yang kerennnnn!!!!!!
One of the most favourite spot for all visitors. Kaca patri setinggi 2m, cerita tentang eksploitasi kejayaan rempah nusantara, dengan simbol-simbol Dewi Fortuna, Dewi Sri dan Ratu Wilhelmina, juga kota-kota dagang di Belanda

 

Maket miniatur sejarah perkeretaapian di Semarang – Ambarawa

Fitur-fitur atau gimmick yang mulai ditambahkan di ruangan-ruangan yang banyak itu, lumayan untuk spot foto
Sejarah pendiri gedung dan pengelolanya
Another teknologi. Konstruksi gedung ini gak pake besi. Atapnya dibuat berbentuk melengkung setengah lingkaran tiap setengah meter untuk mengurangi tekanan. Plafon disusun dari bata miring macam struktur jembatan.

‚Äč

 

‚Äč

yes. Ini dia akses menuju ruang bawah tanah yang terkenal angker itu. Semula dibuat dengan teknologi AC alami. Dimana bagian bawah tanah ini diberi air agar sejuk semua ruangan di bagian atasnya. ( Mirip dengan teknologi AC di Goa Sunyaragi Cirebon ).

Lalu pas jaman Jepang, dipake untuk nyiksa orang Belanda dan orang Indonesia ( yah kebayang yah maen siksa dan mungkin ditumpuk-tumpuk doang mayatnya ).

Lalu dipake juga sama uji nyali dengan masang kamera sana sini dan katanya berakibat meninggalnya salah satu peserta uji nyali.

Sedih ya, ini kan termasuk sejarah teknologi konstruksi bangunan, tapi malah cerita horornya yang lebih kondang…

‚Äč

Another spot tempat nyiksa ceunah.. bagian atap. Ini sebenernya area atas plafon, tapi luas banget dan pastinya panas yah..
Lorong bagian dalam. Sebelah kiri adalah kamar-kamar para pegawai keert api, sebelah kanan hall serba guna
Ini dia hall serba guna bisa digunakan untuk pesta
Ini kamar-kamar para pegawai kereta api, yang poanjanggg macam gerbong
Lawang sewu tidak memiliki 1000 pintu. Karena sebenernya ada 429 pintu. Dan lebih dari 1200 daun pintu dimana masing-masing pintu terdiri dari 6 lembar daun pintu

Enaknya jalan sama pemandu tuh, dia tau spot-spot foto terbaik haha.. sekalian juga dia jadi fotografernya

 

Area taman sudah dirubah menjadi lebih child-friendly
Parkiran sepeda

Dulunya setelah gedung ga berfungsi, rumputnya tinggi-tinggi, fotonya banyak sih kalo di googling. Sekarang udah nyaman semuanya
Pemandu kita. Dia bercerita awalnya hanya 6 pemandu sekarang udah 30an. Bapak ini termasuk 6 orang pemandu pertama yang beruntung mendapatkan cerita langsung dari seorang mbah, yang sejak umur 16 tahun tinggalnya di Lawang Sewu. Mbah ini kabur ketika harus disiksa tentara Jepang. Tapi setelah merdeka dia kembali lagi tinggal disitu bersama istrinya, dan mewariskan cerita-cerita tentang Lawang sewu kepada para pemandu. Termasuk sama-sama melatih diri untuk masuk ke area bawah tanah.

Sukak banget sama bangunan ini hehe

Rasanya kita gak perlu sih ungkit-ungkit kisah horor sedih angkernya lagi, gedung ini layak dipertahankan karena arsitekturnya, karena sejarahnya, dan karena potensinya untuk pariwisata..

Changing place.
Changing time.
Changing thoughts.
Changing future.

 

Wisata Semarang lainnya yang kami Kunjungi adalah Sam Poo Kong, Pagoda Avalokitesvara. Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang dan Kota Lama Semarang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s