Ajak anak ke pameran seni

Aikia sejak masih bayi sudah sering diajak ke Pameran Seni ( juga konser musik ). Sebenernya dulu sih karna mikirnya kok kalo udah punya anak sulit ya nonton bioskop suka-suka, ngonser suka-suka, hang out berlama-lama. Keadaan udah ga sebebas merpati lagi kan?  Ditambah sekarang ada bayi, makin males deh ngemall hehe. Ribet. 

Maka sejak itu ahirnya pameran seni menjadi salah satu tempat tujuan hiburan baru keluarga.

Menurut saya banyak keuntungan bawa anak-anak ke pameran seni, diantaranya :

  1. Hiburan luar ruang yang gratis. Kan banyak tu orang tua yang bingung karna anaknya addict sama gadget, trus disuru main di taman, yekan ga semua taman deket rumah ya. Lagian ngemall juga males ( saya doang ding kayaknya yang males ). Maka ke pameran seni bisa jadi alternatifnya, selain umumnya pameran seni tu juga gratis. Meskipun tidak selamanya child-friendly tapi asalkan anak-anak bisa jaga sikap, maka semua baik-baik saja
  2. Memancing kreatifitas. Berada di seputar benda-benda seni apapun itu, membuat kita merasa menjadi lebih kreatif. Pernah anak saya sampe rumah juga jadi bikin pameran sendiri, pameran lego dan hot wheel. Trus mengundang temen-temennya untuk dateng ke rumah liat pamerannya. Sebenernya lewat youtube juga anak saya mah cepet terinspirasi untuk berkreasi, tapi kalo ditambahin ke pameran seni, dia makin paham cara-cara ngatur display dan pembagian ruangnya.
  3. Meditasi. Ini sih buat saya ding, anak saya mah cuek-cuek aja, dia mah cepet-cepet aja kalo liat karya seni haha ( kecuali yang dia tertarik banget ya ). Sejak dulu kalo lagi jalan-jalan keluar negeri, saya selalu menyempatkan diri ke museum. Sendirian, hening, bengong merhatiin karya seni. Karna hal itu membuat diri kita ditarik ke titik nol lagi untuk memahaminya. Kadang jadi ajang refleksi dan introspeksi, kadang jadi sumber inspirasi. Yah mungkin kelak anak-anak juga mengalami hal yang sama deh
  4. Art education. Sudah pasti belajar seni akan lebih mudah jika ketemu langsung sama ‘barangnya’ dan senimannya. Sesimpel ngenalin ke anak, lukisan impresionis, atau abstrak. Para seniman umumnya bisa nerangin ke anak-anak. Jika butuh bantuan, para petugas yang lain juga banyak yang bisa kasih informasi tentang karya seni yang sedang dipamerkan.
  5. Tau diri. Haha ini juga berlaku untuk saya sih. Karya seni tu dibuat melalui proses yang melibatkan raga, jiwa, waktu, pengalaman dan teknis sang seniman yang pastinya berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kita ( ya kulturnya, sekolahnya, agamanya dll dsb ). Ada semacam ‘obrolan tak terlihat’ antara seniman dan pengunjungnya, penikmatnya. Apapun tujuan karya seninya, membuat kita harus menahan diri untuk berkomentar, dan setelah baca keterangannya atau ngobrol dengan senimannya, maka mau ga mau kita jadi tau message dari karyanya dan ahirnya menghargai karya ciptanya. Membuat kita menjadi tau diri, bahwa kita tidak perlu selalu merasa paling pintar, ga perlu selalu merasa paling benar dan ga perlu memaksakan keyakinan kepedean kita ke orang lain. 
  6. Nambah temen. Bertemu dengan senimannya, bertemu sesama tamu, bisa berdiskusi dengan orang lain, membuat anak belajar bahwa karna karya seni bisa jadi kenal dan berteman dengan semuanya. Semua karya ada alasan dan tujuannya, yang bisa didiskusikan. Melalui pertemanan bisa membesar menjadi komunitas, tempat ide bertambah matang dan kuat.
  7. Paham aturan. Anak belajar tentang rambu-rambu pameran seni. Dimana harus taat pada aturan yang berlaku, misal tidak menyentuh karya seni, tidak memotret menggunakan flash, tidak berisik, antri untuk foto, yaa jaga sikaplah intinya. Anak belajar menghargai karya seni orang lain juga, yang belum tentu dia mengerti.

 

Begitulah kira-kira, pengalaman yang perlu kita sampaikan ke anak-anak kita. 

Kalo gw sih, melalui karya seni, pengennya anak-anak tu bisa menghargai apapun yang berbeda persepsi/ekspresi nya dari mereka. Ngenalin ke anak juga, semua karya seni itu ga ada yang jelek, semua bagus ( lukisan, patung, film, lagu, baju, game dll dsb ) hanya yang ada adalah kita suka atau kita ga suka. 
Karya seni juga bisa menjelaskan ke dia apa itu bedanya plagiat, mencontek, terinspirasi, nyomot ide, memodifikasi. Apapun sumber inspirasi sebuah karya, meskipun dia mendapatkan idenya dari sana sini, yang pasti karya seni tu mewakili hati pembuatnya dan selalu ada pesan yang mau disampaikan. Jadi ga perlu kita sibuk berkutat dengan sumber contekannya, tapi fokus saja sama message karyanya dan jadikan refleksi. 

Toh, selama kita idup, gak harus menyenangkan orang banyak kan, menghargai orang lain saja sudah cukup dan buatlah karya yang otentik dan original. Meskipun there is nothing new under the sun ( it all has been done before ya ). 
*untuk Aikia dan Arli

Galeri Nasional
Galeri Nasional
Galeri Nasional

 
 

Doki doki bedroom by Wangsit Firmantika
At Casa 2017




Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s