#1yearRIPAlinea : jadilah pelayat yang menyenangkan

#RIPAlinea1year : Apa yang harus dilakukan pelayat?

 

Jadi,

Kadang keluarga yang berduka hanya perlu dipeluk.

Ada juga yang perlu ditungguin, didengarkan ocehannya.

Ada juga yang minta didengerin ungkapan marah, sedih dan kecewanya.

Apapun itu, kami perlu melepaskan rasa duka dan beban berat dalam jiwa raga kami.

Melepaskan penat secara fisik di badan kami.

Dan kami semua melewati dengan cara masing-masing yang berbeda-beda.

 

Tentunya kami juga merespon sikap para pelayat yang berbeda-beda pula.

Banyak pelayat yang salting, yang gak tau harus ngomong apa.

Banyak yang sok tau.

Banyak yang berceramah.

Banyak yang marah-marah.

Semua kami ( eh, saya ) terima dengan datar. Karena kami sebenernya senang dikunjungi pelayat, tapi mohon maaf, ternyata hati kami sebenarnya juga sedang hancur dan ternyata perhatian kami tidak sepenuhnya bersama para tamu pelayat.

 

Itulah makanya banyak dari kami yang mengucapkan rasa terima kasih secara tulus ikhlas sekian hari setelah kepergian yang tercinta. Karena saat hari-h kami kehilangan kesayangan, seolah hanya itu satu-satunya sisa momen kami bersama almarhum.

 

Saya memiliki beberapa hal yang tidak diperlukan dari pelayat, mungkin saya sotoy, orang layat diatur-atur, tapi ternyata banyak orang juga ga tau cara jadi pelayat yang menyenangkan. Ini beberapa yang saya pribadi gak terlalu pengen :

 

  1. Pertanyaan “KENAPA MENINGGALNYA?”

Hal itu sangat membantu anda tapi sangat tidak kami butuhkan. Membantu anda hanya jika penyebab kematian relevan dengan keluarga anda. Anda akan mengingat-ingat dan mencegahnya agar tidak terjadi pada keluarga anda.

 

Dan bagi saya, hal itu tidak ada gunanya, hanya tinggal sakit hati dan perih. Mengulang-ngulang hal yang sama seperti menguras kepedihan. Ow yes, saya memang bukan tipe orang baik hati manis tulus ikhlas sih, jadi pertanyaan itu malah mengganggu. Tapi kami dipaksa harus selalu positif! Dengan kita berbagi info penyebab kematian, maka anggap saja kami sudah mengingatkan banyak keluarga untuk melindungi keluarganya lebih intens. Tapi apakah para pelayat juga bisa bersikap positif? Untuk menahan diri tidak menanyakan hal itu? Dan menghindari rasa hancur di dada kami? Entah ya..

Akhirnya menurut saya selain anda sangat ingin tau penyebab kematian, juga anda salting, gak tau mo ngomong apa… mungkin ya..

 

  1. Jadilah pendengar yang baik.

Saat kami ingin rilis stress kami, saat kami ingin mengungkapkan perasaan duka terdalam kami, kami hanya ingin didengarkan. Gak perlu disimak. Gak perlu diingat. Ga perlu direspon. Ga usah senyum, apalagi ikut nangis. Diem aja udah cukup.

 

Yang sangat kami TIDAK perlukan adalah, ketika anda menimpali lagi cerita duka anda sendiri kepada kami. Ketika anda kehilangan suami anda, kehilangan ibu anda, kehilangan nenek anda. Hmm.. jujur, agak berat itu meresponnya, di saat hati kita sedang hancur selamanya sekaligus mendengarkan kisah sedih anda.

 

Pelayat seperti ini yang kami sangat tidak perlukan saat itu. Sorry ya .. Carilah panggungmu sendiri di momen lain..

 

 

  1. Jangan menyuruh kami untuk berhenti menangis.

Kalo kita sedang menangis, diemin aja deh. Bingung yah kalo adaaaa aja yang sibuk ngomong bisikin begini “ssh, ssh udah udah jangan ditangisih, diiklaskan saja”

Ya itu mah pasti laaah, kan emang dipaksa iklas. Tapi kalo momen itu kami ingin menangis, sebaiknya anda jangan mencegah.

Setiap orang berduka memiliki irama masing-masing. Menyuruhnya diam jangan menangis malah mengambil momen pentingnya. Kami tidak tau lagi kapan harus menangis seperti itu kalo bukan saat peti ditutup, misalnya. Jadi biarkanlah kami memiliki momen itu, meraung-raung sesuka kami.. ( ow yes, once again, i am not a very nice person who can please everybody )

 

Salah satu cara melewati kesedihan dan menikmati masa berkabung adalah dengan menangis. Bukan hanya karena menangis adalah ungkapan sedih saja, tapi juga lebih kepada agar mengerti “ahli kehilangan”.

 

Ekspresikan saja rasa cinta yang kita punya. Mau berlebihan atau hanya diam juga bebas aja. Yang penting, hormon sedih itu harus dilepaskan. Tenang saja, menangis bukan tanda perlemahan. Menangis itu manusiawi. Konsekuensi dari cinta.

 

  1. “Nanti akan hamil lagi. Nanti bisa dapet bayi lagi”..

Oke, ini adalah doa. Tapi sedikit di dalam hatiku, ini semacam pernyataan untuk “tenang aja, masih bisa hamil lagi”.. Hmm..Misalkan anda meninggal dan digantikan dengan yang baru tu, mau gak ya? Rasanya almarhumah itu haruslah istimewa di hati di kehidupan kami. Dan ga ada pengganti untuknya. One child never replace another. Because each is unique and different! Tapi terima kasih untuk doanya. Amin for that. Semoga anda juga hamil juga..

 

  1. “Ini adalah jalan yang terbaik” “Tuhan lebih sayang sama anak lo”

hmmm.. iya sih, terbaik, karena bukan anak lo yang diambil.. (oops, sinis, yep. I’m not a very nice cute person )

 

  1. “Dia sudah ada di tempat yang terbaik”.. so sama gw udah pasti tempat terburuk kah untuk almarhumah? Ya iya juga sih. Yang ini memang tak terbantahkan tapi sekaligus bikin bete sih. Ya emang sih, kami hanya bisa menyiapkan kehidupan sesuai standard kami, merawat dengan sehat, memberinya ASI sesuai haknya, memberi nutrisi makanan alami. Tapi ya pasti, disana lebih baik daripada sama gw.

 

 

Tapi taukah kalian bahwa aku mencintainya lebih dari apapun? Aku akan rela berkorban untuk dia selamanya? Aku akan melakukan apapun untuk anak-anakku?

 

Aku tuh gak mungkin meninggalkan dia berlama-lama, hanya untuk pekerjaan!

Aku gak mungkin ninggalin dia berlama-lama, hanya untuk hang out sama sahabat-sahabat aku.

Dan aku sangat amat gak mungkin ninggalin dia, hanya untuk pacaran sama suamiku bersenang-senang berduaan tanpa anak-anak, apalagi pacaran jauh-jauh ke luar negeri ninggalin anak-anak.. Nooo.. itu semua ada waktunya, nanti pas dia gede, pas puber, dia yang ninggalin kita orang tuanya.

 

Dan, kalaupun saya bisa nyetir motor, saya juga gak mungkin gendong bayi saya di depan sambil melawan arah tanpa SIM, tanpa STNK, tanpa helm.

Kalaupun saya merokok, SAYA GA MUNGKIN ngerokok dekat dia.

Well, oke, sori, ini murni hanya ungkapan kekecewaan saya yang cuma rendah di hadapan Nya dan di hadapan kalian, ibu-ibu yang pastinya mulia di seluruh muka bumi. Yang pasti, memang betul lah dia sudah di tempat yang sangat terbaik bersama-Nya, hanya tahan saja mengucapkan kalimat seperti itu saat melayat.

 

 

  1. “Aku tau perasaanmu, semua akan baik-baik saja”..

hmm.. Really? Do you really? Pastinya saya hanya bisa mendengarkan saja ungkapan itu, tapi setiap orang berduka lagi-lagi memiliki irama duka, kekawatiran dan keberuntungan sendiri-sendiri ya.

To gak, paling pol nih pertanyaan datang dari orang yang dekat di lingkaran keluarga saya, mau tau pertanyaannya apa?

“Sa, ada firasat apa sebelumnya, apa ada tanda-tanda sebelum almarhum meninggal?”

sori ya, saya sih malah geli dapet pertanyaan seperti ini.. Like, heeey hellooow situ rajin amat nongkrongin TVone??!!! yeah, please, buat anda mungkin itu pertanyaan wajar, buat saya sumpah super konyol!! sori ya pencinta TV one..

8. Kami benci di-judge!!!

heyyy.. asik banget nih ngejudge-ngejudge saya persis di hari saya harus kehilangan my baby..

“aduh kalo saya sih, pasti saya akan begini begitu”

“aahh telat sih ke rumah sakitnya!”

“siapa sih dokternya? rumah sakit apa? kalo saya sih gak mungkin kesana”

dst dsb..

well. Udahlah kehilangan anak, eee ternyata masih harus dijudge juga.. Umumnya yang nge-judge adalah orang-orang yang keluarganya masih lengkap!! ahahaha buat saya, konyol dan bodoh. Kadang pengen langsung noyor, sayang aja biasanya ucapan itu datang dari para sepuh ( para sepuh yang ga bisa jadi teladan tentunya laaahhh )..

So, saaat melayat. TAHAANNNN kebiasaan itu. Gunakan ngejudge orang pada tempatnya, misalnya di socmed anda atau orang lain yang memang memerlukan. Karena saya, jelas gak butuh…

 

 

Yes.

If you’re wondering how long you or family member might be grieving for,

the answer is forever.

Bersyukur sudah pasti.

Dipaksa ikhlas, selalu kami usahakan.

Sedih sudah jelas.

Kembali normal, juga sudah harus..

berat!

 

So, biarkan kami menikmati hidup kami, menemukan ritme kehidupan kembali dan jadilah pelayat yang baik.

Datang, peluk kami, mendoakan almarhum dan tidak perlu berkata apa-apa.

 

Setiap orang punya jatah sedih dan gembira masing-masing.

Kebetulan saya punya, berdekatan.

Gunakan daya syukur setiap hari.

Terima.

Tersenyum.

Mengalir.

 

 

 

 

I love you so much Alinea…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s