#17an Belajar Menyikapi Perbedaan ??? Sessa Xuanthi

#17an Belajar Menyikapi Perbedaan – Sessa Xuanthi

More Indonesia, edisi Agustus 2011 – First Year Issue

( yang Covernya Kate Walsh, ayo beli ha ha ha)

 

Sekian minggu lalu diinterview temen dari majalah More Indonesia, NeszNesz

Temanya, adakah hal pertama kali yang paling penting yang pernah kamu lakukan?

Jawabannya? Bbbuaanyak!

Tapi pilihan jatuh kepada topik, Menikah dengan pria berbeda keyakinan dan 8 tahun lebih muda dari aku..

 

Yep! Dipa Andika Nurprasetyo aka my hubby, memang 8 tahun lebih muda dari saya. Ketemunya dulu di tempat kerja, dia adalah anak buah saya yang paling bisa diandalkan! Dan standard la ya, witing tresno jalaran soko kulino. Ketemu mulu 24 jam 7 hari di setiap pekerjaan jadi ya stralah pacaran saja..

 

4 tahun pacaran cukup, tgl 24 Januari 2009 dan 31 Januari 2009, kami menikah dengan tetap melakukan ala Gereja Katolik via proses sakramen perkawinan dan ala Islam dengan Akad Nikah. Caranya gimana? Yeah, intinya kreatiflah mencari cara untuk sesuatu yang kita agungkan dan sakralkan. Kalo ada mau, pasti ada jalan, sesulit apapun itu. Apalagi tinggal di negara Indonesia, negara yang tidak kondusif untuk segala sesuatu yang ’berbeda’.

Mo lagi pada rame di twitter #17an dan jargon2 about diversity mah, masih bullshit buat gw.. Cuma pada kenceng ngetwit doang! Yah tapi mudah2an sih mau ngejabanin. Etapi coba cek dulu deh, apa udah pernah dan bener ngelakonin ’diversity concepts’ itu. Berat loh. But at least pada brani ngemeng dulu laya, lama2 juga kebentuklah konsep harmony in diversity itu. Amin

 

So balik lagi ke More magz, temanku itu mewawancara  2 pertanyaan saja. Interviewnya cuma lewat BBM, panjaaang bener, taunya diedit jadi cuman dikit hehe

 

Ini interviewnya, kalo hasil editannya, ya silakan dibeli di tukang majalah terdekat di kota anda hehe

 

Q1 : Kenapa lo memutuskan harus menikah dengan yang berbeda agama?

  1. Karena itikad kita baik adanya. Agama dan segala peraturan itu buatan manusia, maksudnya, semua interprestasi di dalam Buku Sucinya ( Al Quran,  Alkitab dll ) itu persepsi dari manusia. Jadi hubungan pernikahan berbeda agama ini, harusnya pertanggungjawabannya bukan horisotal duluan, tapi vertikal dulu terhadap Sang Khalik nya masing-masing. Urusan horisontal, akan mengikuti ritme yang kita ciptakan. Toh yang ngejabanin juga kita. Dan yang berhak menentukan dosa ato ga, masuk neraka atau bakal dicegat di pintu surgapun, rasanya bukan kuasa manusia juga deh tu..
  2. Agama bukan sesuatu yang harus melulu konsep menang – kalah ala FPI. Bukan! Agama adalah solusi untuk semua masalah yang ditimbulkan oleh manusia, agama adalah jawaban dari semua pertanyaan yang ga bisa dijawab dan dikerjakan oleh manusia biasa
  3. Udah kultur, bokap gw muslim, nyokap gw Katolik. Bokap dia muslim, nyokap dia dulunya Katolik. Jadi ebony ivory, livin in a perfect harmony mah udah biasaahh buat sayah..
  4. Anak gw, Ai, harusnya di surat perjanjian nikah ala Katolik, dia beragama Katolik. But, demi menyenangkan hati warga mayoritas di keluarga, lingkungan dan negara ini, saya ikhlaskan dia untuk menjadi Muslim seperti ayahnya. Big heart/berjiwa besar, rendah hati dan menjunjung tinggi toleransi agama, adalah nilai-nilai Katolik yang saya janji akan berikan untuk bekal hidup dia kelak. So please, jangan pernah ngomongin toleransi beragama sama gw deh.. hahaha

Lagi-lagi ngomongin #17an di twitter, yelaa bok, dengan senang hati saya siap berbagi cerita dengan semua pengalaman yang SUDAH kami lewati, bukan cuma rajin ngetwit doang. *ampuun congkaknyaaaah *plis undang gw sm dipa sabagai narsum hahaha

 

Q2 : Kenapa lo memutuskan menikah dengan brondong yang lebih muda 8 tahun dari lo?

  1. Saya yakin dan percaya, semua pria punya 1 pasangan ( kecuali pastor, romo , biksu ya ). Pria kaya matang ganteng mapan, Pria kasar abusif, Pria puitis feminin semuwah punya 1 pasangan. Dan INGAT! Masing-masing pasangan punya keunikan problematika dilematika kehidupan masing-masing, yang hanya pasangan itu sajalah yang bisa mengurusnya dengan cara komunikasinya yang khas. Yeeah.. Jadi kalo pasangan saya lebih muda, ya stralaneik….
  2. Selera aja, emang ga awet sama yang kaya mapan mateng ganteng. Seperti kaku gitu. Dan selalu justru penuh kejutan, desire, fun, excitement sama yang berondong2 advonturir ini. Jiwa ikutan muda terus. Raga? Yaaa biar Natasha yang urusin hahaha
  3. Sampai hari ini usia pernikahan kami udah 2 taun lewat. Masalah datang naik turun, semua kita nikmatin dan cari solusi bareng2 pake mewek2 dan drama-drama bercucuran airmata. Komunikasi terus menerus kami dipelajarin biar semua lebih tenang, ringan dan riang.
  4. Keuntungan lain? Sama pria gen Y ini, gw jadi ikutan up to date sama dunia digital, teknologi dan informasi. Semua gadget dan jaringan sosial, saya ikutin semua deh. Apa? Ga cuman facebook doang deh, plurk, twitter, google+, heelo udah ada dongs akun saya hahaha. Dipake? Belum tentuuu…

 

Well, seperti itu lah #17an versi saya. Asli! Gw dan Dipa adalah contoh nyata, talk less do more about livin in diversity. Yah, urusan surga or whatever, akan kami cari tau dan solusi terbaik untuk keluarga kami. *edan wise gela.. Kami so far ga cuman ngetwit about #17an doang, Satu Tujuan doang, tapi kami masing-masing sudah hidup lama dengannya, sekarang menikahinya dan akan terus bersyukur bisa ada di dalam lingkaran perbedaan ini, demi Satu Tujuan hidup harmonis di keberagaman.

 

There’s always room for diversity – Celine

 

17 Agustus 2011, 00.10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s